Ceritaku di BBM Irwansyah 2019

Day 1 : Menuju Hotel Atlet Century
Terkadang semua yang kita pikirkan itu tak mungkin bisa menjadi kenyataan. Sama seperti hari itu, tak terasa hari itu adalah hari keberangkatan ku menuju tempat berkumpulnya para peserta BBM 2019.
Polusi ibukota langsung menyambut ketika saya turun dari bus, masuk ke lobby hotel lalu diantar ke tempat administrasi belajar bersama maestro di lantai 2 hotel atlet century. Awalnya aku takut, takut jikalau nanti teman-temannya akan sombong. Aku mendapatkan kamar nomor 437 di lantai 4 aku mengetuk pintu kamu namun tak ada jawaban, aku ketuk lagi tetapi tetap saja tidak ada yang membukakan pintu tapi aku yakin didalam itu ada orang karena ac dalam kamar hidup aku langsung meminta seorang pekerja yang sedang membersihkan kamar untuk membukakan pintu kamarku ternyata di dalam kamar yang akan ada seorang yang sedang sholat. Ternyata dia belum membukakan pintu kamar karena dia sedang sholat kamipun berkenalan sampai akhir 2 orang lagi datang. Kami saling berkenalan ternyata mereka sangat baik tak seperti yang pernah kupikirkan, mereka tak sombong. Bahkan kami sempat berjalan-jalan sore di gelora bung karno. Malam harinya kami bersama-sama pergi ke gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang tak cukup jauh dari hotel kami hanya berjalan kaki sekitar 5 menit saja sudah sampai. Saat di gedung kemdikbud kami makan malam dan pembagian backpack dan jaket belajar bersama maestro serta alat tulis.
Teman-teman sekamarku iyalah Meita asal Papua, Haura asal Jakarta dan Alya dari Cianjur.
Jadi sepulang dari gedung kemdikbud kami antri untuk menaiki lift jadi waktu itu seketika udara sekitar tempat mengantri lift menjadi sangat panas. Mungkin karena dipenuhi orang yang ini naik lift ditambah saat itu aku sedang mengenakan jaket belajar bersama maestro jadi membuat udara tambah panas.
Aku berkata "apakah cuma saya yang merasa kepanasan" sambil melepaskan jaket.
"Jaket ini harusnya dipakai sewaktu musim dingin kaya dikorea" ujar seorang cowok berkacamata yang tepat berada di samping ku.
Aku berpikir apakah hari itu korea sedang musim dingin ?
Dan kenapa harus korea ??
Kami menunggu lift dan akhirnya sampai dilantai 4
Aku mengetuk pintu kamar 437 tempatku tidur. Ternyata sudah ada Meita disana. Aku langsung menuju tempat tidurku. Satu persatu teman kamarku berdatangan.
"Aku naik tangga darurat. Uh langsung kurus" ujar Alya
"Para pejuang tangga darurat" ejekku
"Aku langsung kurus" tambah Alya
"Kalau gue udah kurus nanti naik tangga darurat langsung jadi kerangka kali ya" ujarku tertawa
Saat itu sekitar pukul 23.30 aku mengunjungi kamar teman satu maestro ku, aku mengunjungi nya karena aku belum bisa cek in. Saya ditemani haura turun ke lantai 2, saya mengunjungi zahra teman satu maestroku dan haura pergi menemui teman satu maestronya.
Sesampainya dikamar zahra dan memulai untuk cek in ternyata sudah ada yang mencekin kan. Akhirnya aku kembali menuju kamarku dilantai 4. Tiba-tiba saat menuju lift haura muncul bersama teman cowoknya. Aku kira mereka satu sekolah.
"Kamu elishabet temanin aku ke lobby yuk" ujar haura
Mmm aku tak bisa menolak nya. Aku menganggukkan kepalaku.
Kami bertiga dilobby hotel menunggu pesanan haura dan temannya. Sebenarnya Waktu itu sekitar pukul 12 malam.
"Sekarang jam berapa sih ?" Tanya Haura
"Jam 12 malam" Jawabku
"Jam 10 kok" balas teman cowok haura
Aku bingung dong apakah jamku yang salah atau bagaimana.
Haura melihat jam dihpku yang menunjukkan pukul 00.03
"Lah ini mah jam 12. Jam 10 dari mana?" Tanya Haura
"Iya jam 10 + 2" Recehan teman Haura
Makanan datang dan akhirnya kami kembali ke kamar. Ternyata teman haura itu bernama nofal dan mereka satu maestro yaitu bapak angki. Logat jawa sangat melekat pada saat nofal berbicara. Sangat halus.
"Kamu jaket BBM nya warna apa?" Tanya Nofal kepada Haura
"Biru"
"Yah sayang ya" Ujar Nofal yang menggunakan bahasa jawa
Hal yang aneh dan konyol pun terjadi
Saat saya dan haura menuju kamar kami di 437 ternyata nofal tetap mengikuti.
Sampai saat nofal berhenti di kamar 436.
Haura pun tak tahu jika kamar Nofal bersebelahan dengan kamar kami.
"Oh kamu kamar nya disini?" Tanya haura
"Iya" jawab Nofal sambil memasukkan kartu miliknya
Namun pintu tak terbuka
Beberapa kali nofal mencoba namun tak terbuka juga.
Sampai saat dimana Nofal berkata "ini kamar ku bukan ya?"
Aku merasa aneh tentang hal ini, bagaimana bisa dia yang punya kamar malah dia lupa.
Haura lalu membantu membukakan pintu dengan memasukkan kartu ternyata pintu nya terbuka.
Saya menceritakan perasaan saya saat bertemu dengan Nofal, ternyata Haura juga merasa tak nyaman dengan Nofal.
Saat itu kami membahas apa yang terjadi tadi di lobby sambil makan bersama burger milik Haura. Namun saat itu tiba-tiba minuman soda Haura terjatuh.
"Wah mungkin ini karma ngomongin si nofal" ujar Alya
"Akh.. Mahal-mahal beli minum tapi tumpah" rengek Haura
Aku hanya tertawa karena kejadian ini
Sampai saat itu jam 01.30 Nofal mengetuk pintu kamar kami namun kami tak membukakannya. Dia beralasan kepada Haura karena dia akan memberikan oleh-oleh. Tapi bukannya mereka satu maestro ya, kenapa tidak tempat maestro nya saja Nofal membagi-bagikan oleh-olehnya, Pikirku.
Saat kami bangun namun udara cukup panas. Perasaan kami pakai AC tapi kok panas ya. Saat Haura mengecek suhu AC ternyata 30°C.
"Kok ini suhunya 30° sih?" Tanya Haura
"Hahaha.. Kalian tidak tahu kalau aku diam-diam menaikkan suhu AC"
Ternyata Meita diam-diam menaikkan suhu ruangan. Dari awal Meita tak tahan suhu kamar berAC. Meita selalu mengeluh bahwa suhu kamar kami dingin padahal menurut aku,Haura dan Alya suhu udara kamar normal.


Day 2 : Pembukaan dan keberangkatan
Matahari ibukota langsung menyapaku yang tidur didekat jendela.
Tak ada siulan burung atau kokokan ayam dipagi hari yang membangunkanku. Hanya bangun karena perasaanku sudah pagi. Padahal aku baru saja tidur sekitar pukul 02.00 dan sekarang bangun pukul 04.30
Saat itu masih sepi sekali ketika aku pergi ketempat makan hotel untuk meneguk segelas air.
Mandi lalu makan dan bersiap untuk kembali ke gedung kemendikbud, melewati gedung kemristek. Gedung kemristek membawaku dalam harapan baru. Aku ingin menjadi Menteri Riset dan Teknologi. Saat aku duduk dikelas X aku mulai memiliki cita-cita untuk menjadi ilmuan. Dan saat melewati gedung Kemristek aku mulai menaruh harapan kalau aku harus menjadi Ilmuan yang bisa membawa kemajuan riset dan teknologi di Indonesia.
Saat sampai di gedung Kemdikbud aku sadar aku akan berpisah dengan teman-teman sekamarku. Berpisah dengan mereka dan berkumpul dengan teman-teman satu maestroku.
Masih ada rasa canggung saat awal saya bertemu dengan teman-teman satu maestro ku. Tak seperti ketika bertemu dengan teman-teman satu kamarku.
Kegiatan pembukaan belajar bersama maestropun dibuka.
Aku tak berharap lebih, hanya melihat bapak menteri pendidikan dari jauh saja sudah menjadi suatu kebanggan bagi saya.
Sampai akhirnya kegiatanpun selesai dan diakhiri foto bersama maestro.
Saat itu kami dari maestro bapak Irwansyah Harahap tak kunjung dipanggil, aku menunggu ditempat duduk sampai seseorang berkata
"Tolong kasih jalan bapak menteri mau lewat"
Aku langsung membalikkan badanku dan ternyata benar itu adalah bapak menteri pendidikan dan kebudayaan yaitu bapak Muhadjir Effendi.  Tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri beliau dan bersalaman dengan beliau.
Setelah acara yaitu kegiatan makan, tetap saja jiwaku diam. Sulit untuk bisa langsung berbaur. Setelah makan kami kembali ke hotel.
Waktu dihotel kami beristirahat sejenak sampai pada sekitar jam 2 siang waktunya cek out. kami pergi ke lobby hotel. Terlihat disana terdapat wanita yang wajahnya tak asing bagiku, dia adalah ibu Rithaony yaiti istri dari bapak Irwansyah. Kami disuruh duduk, awalnya sih canggung banget, sangat canggung.
Ibu Ritha berbicara bahwa kita akan berangkat pukul 16.00 menuju bandara.
Teman-teman semaestroku dan teman-teman dari maestro bapak Jose Rizal bersatu dalam satu bus yang sama dan satu pesawat yang sama menuju bandara kualanamu medan.
Saat sedang mengurus boarding pas
"Siapkan ktp atau kk atau kartu pelajarnya" ujar Pak Eko pendamping kami
"Pak saya baru 16 tahun belum punya ktp. Pakai kk aja ya" ujar seseorang berbadan bongsor
"Hah 16 Tahun badan lu kaya gini. Gue yang kecil apa emang lu yang ketinggian sih" GumamkuKami menunggu diruang tunggu saat boarding pas dibuatkan.
Saat sedang duduk menunggu satu persatu dari kamipun membuka pembicaraan
" Aku ngga punya sertifikat sampai pas itu ada kegiatan penyuluhan deman berdarah yaudah aku pake sertifikat itu aja" ujar Agape yang berasal dari Semarang
Para priapun solat.
"Weh minuman diluar mahal" ujar seseorang
"Yaelah namanya juga daerah bandara ya pasti mahal lah. Namanya juga prinsip ekonomi permintaan dan penawaran. Belum lagi para pedagang harus membayar sewa kios yang mungkin saja mahal" Jiwa ekonomiku bergemuruh
Kami masuk ke gate 8
Ternyata pesawat kami delay.
Sekitar pukul 20.35 kami masuk pesawat.
Aku duduk dikursi 12A. 12 B ada Farhan dan 12 C ada Oiy.
"Lo udah pernah naik pesawat?" tanya Farhan yang berasal dari Banten. Satu provinsi denganku hanya berbeda kota saja
"Udah kok"
Saat pesawat mulai naik
"Mmm fotoin dong" ujar Farhan sambil memberikan handphone nya
Suara bising pesawat mengganggu pendengaranku, aku malah mendengar "videoin dong"
Ya aku memvideo keadaan diluar dari balik jendela
Pesawat yang kami tumpangi menyediakan layanan tv sebagai hiburan.
Sampai ditengah perjalanan Farhan dan Oiy yang berasal dari Sumbawa menonton film bergenre romance.
"Astaga ada bagian scene kiss" aku langsung membuang muka menghadap kearah jendela.
Sampai akhirnya pesawat pun sampai dibandara kualanamu medan dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.
Kami harus menempuh perjalanan lagi 1 jam dari bandara kualanamu ke rumah bapak Irwansyah Harahap.
Kira-kira hari itu jam 01.00 kami sampai dirumah Bapak Irwansyah, kami datang dengan suguhan banyak makanan. Aku mengambil sepotong kue bolu, rasanya enak. Lalu kami disuguhkan teh manis, namun pada shy shy cat, so gue nawarin ke mereka.
"Hayok diminum guys" ucapku sambil menyuguhkan nampan berisi teh
"Wah menantu idaman" ujar seseorang
Fix saya baper awokwowk

Day 3 : Musik dunia dan dunia musik
Badanku rasanya masih sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, hari itu kegiatay dimulai sekitar pukul 10.00. Dimulai dari perkenalan lalu ramah tamah.
Kami memilih ketua kelas, wakil ketua kelas serta sekertaris.
"Udah ketua nya Husman aja alias bang woce"
"Oiy aja ya"
"Yang badannya besar yang jadi ketua"
"Antara Oiy,Woce dan Gaim"
Setelah banyak perdebatan dan gelak tawa akhirnya terpilih juga.
Ketua kelas : Ghaim
Wakil ketua : Zahra
Sekertaris : Widhi
Kami juga bermain roleplay yaitu dimana kita bertukat jiwa menjadi teman kita. Saat itu aku bertukar jiwa dengan Tri Meiliani asal Palembang. Kita saling mendengarkan dan didengarkan. Lalu menceritakan ulang seakan kita adalah orang itu, kita menceritakan tentang hal tersedih, hal terbahagia dan kegagalan.
"Saya udah mancing lama tapi saya ngga dapat belut" ujar Riza yang menjadi Husman alias Bang woce
Riza yang berasal dari pati terlihat kesulitan melafalkan logat Husman yang berasal dari wakatobi. Bahkan ketika menceritakan hal tersedih dalam hidup Husman, malah membuat semua tertawa karena cerita yang diulang disebabkan logat yang salah.
Malam harinya kami diberi materi tentang Dunia musik dan muski dunia
Dunia musik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan musik pada bagian ini kami diperkenalkan berbagai alat musik seperti al lout,gitar,sasgitar dan hasapi.
Musik dunia adalah musik yang ada di dunia kopi diperkenalkan musik musik seperti musik musik dari timur tengah,italia,brazil dan juga musik batak.
Al loud dipercaya sebagai alat musik tertua yang dibuat sebelum masehi alat musik ini adalah alat musik jaman nabi daud.
Kamu disuruh menutup mata menarik nafas lewat hidung memasukkan ke dada lalu perut dan dibuang secara perlahan lewat mulut hal itu membuat saya merasa sangat nyaman bahkan rasa nyaman tersebut membuat saya mengantuk
Saya merasa seperti dibawah ke beberapa negara karena permainan alat musik dari Bapak irwansyah. Permainan alat musik pak irwansyah dapat menghipnotis kami semua padahal kami berada di rumah beliau tapi kami seperti berada di timur tengah dan negara-negara lain.
Beliau juga berbicara jika alat musik itu seperti manusia alat musik itu mempunyai badan,leher kepala dan kuping. alat musik juga memiliki jembatan jembatan itu adalah penghubung.
Suatu pelajaran bagi saya tentang alat musik dunia dan musik dunia.
Selain suara yang dihasilkan alat musik, alam juga memiliki suara
Musik dan pemainnya sudah menjadu satu kesatuan.
Tar adalah alat musik petik.
Itu lah materi malam yang disampaikan bapak Irwansyah pada tanggal 2 juli 2019
Kami juga diberi tugas oleh Bapak Irwansyah untuk menulis daftar keinginan kami. Seperti makanan yang kami inginkan atau fasilitas yang kami mau. Tapi bagi saya sudah lebih dari cukup ketika kami sudah disambut dengan ramah dikediaman beliau.


Day 4 : Kembali ke akar
Pagi itu kami diajarkan tentang alat musik seruti peti, seruti peti adalah alat musik yang berasal dari india. Kami diajarkan nada seruti peti dari nada semula lalu dinaikkan atau diturunkan dan kembali lagi kenada semuala. Bapak menyebutnya dengan istilah "kembali keakar" yang artinya perlu kembali ke akar budaya dan tradisi. Dengan memahami akar budaya dan tradisi sendiri, maka kita akan lebih mudah memahami akar budaya dan tradisi orang lain.
Siang harinya kami diberikan penjelasan tentang jurnal dan journey. Jurnal ada karena adanya journey. Jurnal dibuat untuk menpermudah kita mengingat pengalaman, karena manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat jika tidak ditulis. Jurnal adalah journey yang dituliskan. Selain itu kami juga diberikan materi tentang Search dan Research. Search memiliki arti mencari sedangkan Research memiliki arti mengulangi Pencarian. Jika kita sudah mencari ilmu jangan hanya puas dengan ilmu tersebut, teruslah mencari ilmu. Sudah dicari, cari lagi.
Pada bagian ini juga kami diberikan tugas mereview hasil karya bapak Irwansyah dan grup musiknya. Kami dibagi kedalam 5 kelompok, satu kelompok terdiri atas 3 orang. Aku mendapatkan kelompok 2 dengan anggota yaitu Ghaim asal Bengkulu dan Hafiz asal Banyumas. Kami mereview karya bapak Irwansyah dan grup musik Mataniari. Karya yang kami Review adalah Margondang da amang dijabu. Margondang da amang di jabu adalah lagu berbahasa batak arti lagu ini adalah berpesta bapak di rumah. lagu ini memiliki nada yang syahdu yang dapat membuat orang lain merasa kan kesedihan di lagu ini. lagu ini bercerita tentang seseorang gadis yang gundah karena dia belum juga menikah jika mendengarkan lagu saat malam hari di bawah sinar rembulan yang menemani sunyinya malam akan menambah kesediaan dari lagu ini. Saat kita mendengarkan lagu ini kita seperti dibawa menjadi gadis dalam lagu ini. Lirik lagunya pun menambah kesedihan lagu ini dalam musik video lagu ini tampilkan tarian tortor yang dibawakan oleh Ibu Rithaony dan kak Niesya Harahap. Tarian tersebut dibawakan dengan lemah gemulai, tarian tersebut menambahkan keindahan dalam musik video ini dalam musik video ini memperlihatkan pula para pemain alat musiknya adapun allah musik ini makan adalah hasapi, sarune bolon, suling ,garantung dan juga hesek. Alat musik tersebut adalah alat musik tradisional batak alat-alat musik tersebut memiliki keunikan tersendiri mulai dari bentuknya suara yang dihasilkan nyasar pacar memainkannya salah satunya bergantung adalah musik ini terbuat dari kayu yang disusun sesuai susunan ada yang dihasilkan.
Disela-sela mengerjakan tugas kami membuat pertunjukkan asal-asalan dimana Aldi yang berasal dari padang memainkan keyboard dan Oiy yang bernyanyi lagu yovie and nuno berjudul dengan janji suci versi koplo. Aku yang sedang mengerjakan tugas mempercepat kinerjaku supaya bisa ikut bergabung.
Seperti biasa kami selalu bergantian saat menyuci piring jadi tiba saatnya bagianku mencuci piring. Lah tapi aku nyuci piring sendiri. Saat baru mencuci beberapa piring tiba-tiba gaim datang membawa beberapa piring kotor. Dalam hatiku rasanya kesal.
"Mau dibantuin ga ?" Ujar gaim menawarkan bantuan
"Oh iya" jawabku
Sampai dimana ending nya membuat kesimpulannya adalah cowok tuh ga bakat nyuci piring. Bukannya meringankan bebanku malah menambah bebanku karena aku harus membersihkan wastafel yang tertutupi busa sabun cuci piring.


Day 5 : City Tour
Saya bangun pukul 04.00 pagi karena nggak bisa tidur mungkin karna terlalu bersemangat mau jalan-jalan jadi sulit tidur kali mandi lalu makan sambil menunggu mobil wisata kami berfoto. Mobil wisata tiba sekitar pukul 09.00 pagi mobil wisata tersebut bernama mowiee adalah kependekan dari mobil wisata edukasi entrepreneurship.
Perjalanan pertama kami adalah menuju masjid al mashum kami singgah sebentar untuk berfoto dan dilanjutkan menuju ke istana maimun sesampainya di sana maimun ternyata mati lampu jadi kami tidak jadi masuk, hanya berfoto dengan latar istana maimun. Kami  memutuskan untuk mengunjungi istana maimun sore harinya kami melanjutkan perjalanan ke Tjong A Fie di kawasan pecinaan. Di rumah Tjong A Fie kami dipandu dan dijelaskan oleh sang pemandu. Rumah Tjong A Fie arsitektur cina eropa dan melayu. Anak empat dari Tjong A Fie adalah guru besar dari bapak Irwansyah Harahap yang bernama Lee Me Djong atau Djong Xi Ying beliau lama sekolah di belgia dan ialah yang pertama kali di tahun 80-an awal mengajarkan pakai irwansyah tentang musik barat beliau mengajar di jurusan musik etnomusikologi.
Sebagai seseorang yang menyukai arsitektur rumah Tionghoa aku pasti mengabadikan foto dirumah milik Tjong A Fie
Saat sedang mengabadikan foto malah digangguin sama yang cowok, ada yang tiba-tiba muncul dibelakang lah.
Setelah puas berjalan mengelilingi rumah Tjong A Fie dan berfoto-foto tibalah saat makan siang, saat menuju tempat makan siang kami melewati masjid bengkok dan little india tempat makan kami berada dekat dengan real kereta api bahkan sesekali kami melihat kereta yang lewat. selesai makan kamu melakukan perjalanan ke lapangan merdeka. Dikawasan lapangan merdeka dekat sekali dengan kantor pos indonesia dan titik nol kilometer kota Medan di lapangan merdeka juga kami membuat video ucapan selamat ulang tahun untuk kota medan.
Selain lewati masjid bengkok dan litle india kami juga melewati jembatan kebajikan dan gereja immanuel yang termasuk gereja tertua.
Selanjutnya kami menuju ukmmart. Diukmmart kami membuat souvenir sendiri dan di kamar kami memberi beberapa oleh-oleh lalu melanjutkan online untuk mencicipi sirup markisa setelah itu kami kembali lagi ke istana maimun selanjutnya kami menuju kamar di kamar kami membuat souvenir sendiri dan di kamar kami memberi beberapa oleh-oleh lalu melanjutkan online untuk mencicipi sirup markisa setelah itu kami kembali lagi ke istana maimun disore harinya untuk berfoto di dalam istana maimun. Setelah dari istana maimun kami pun pulang.
Ditengah perjalanan kami bernyanyi tapi sangat rusuh, nyanyian kamipun membuat kuping bang arief sepertinya terganggu.
"Kalian bisa diam ga ? kalian tuh bukan nyanyi tapi teriak" ujar bang arief yang mungkin pusing karena suara kami.
"Mendengar hal itu kami malah tertawa"
Kami sampai kembali dirumah sekitar pukul 19.00 mungkin jika di Serang dikediamanku jam segitu sudah malam. Namun di Medan jam segitu baru saja magrib. Senja masih bersama kami saat itu.


Day 6 : Lebah
Hari itu kami diperkenalkan pada satu karya bapak Irwansyah dan grup musik suarasama. Judul karya bapak yaitu lebah. Bapak Irwansyah bercerita jika dia diminta oleh seorang perternak lebah untuk membuat lagu bertema lebah supaya orang-orang tidak takut terhadap lebah. Lebah memiliki sejuta manfaat mulai dari madu yang dihasilkan lebah untuk kesehatan dan pengobatan.
Dia berikan manusia dengan kenikmatan madunya
Dia eratkan manusia dengan sikap laku ukhuaknya
Dia cintakan manusia dengan kebesaran khaliknya
Itu adalah sepenggal lirik lagu lebah karya bapak Irwansyah Harahap.
Lebah yang selama ini kita takuti karena sengatannya ternyata memiliki sejuta manfaat dan bapak Irwansyah berharap jika orang-orang mendengarkan lagu ini mereka tidak akan takut lagi terhadap lebah.
Sore harinya kami diberikan tugas membuat karya yang menceritakan perjalanan kami mengikuti kegiatan Belajar Bersama Maestro. Kami mencurahkan segala kreativitas kami untuk membuat karya tersebut. Karya tersebut akan ditampilkan besok malam dalam kegiatan BBM Idol Irwansyah Harahap 2019.
Malam hari ini kami mempresentasikan hasil review karya bapak Irwansyah namun setelah itu kami kedatangan seseorang dari Kemdikbud yaitu bapak Batubara dan Bang Erik Tanjung.
Jujur sebenarnya ketika meteka datang aku kira mereka akan memberikan uang saku. Karena saat itu sedang ribut sekali digrup penghuni kamar 437 yang membahas tentang uang saku.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Terdengar suara berisik para pria dari bawah.
Zahra yang batuk tak kunjung henti membuatku merasa agak terganggu karena aku sedang menulis tugas dari Kemdikbud. Ya tugas ini, tugas yang awalnya ku tulis dibuku lalu ku salin ke word. Aku mengambilkan minum air hangat untuknya berharap batuknya reda. Namun saat aku datang dan membawakan segelas air minum hangat zahra berkata
"Aku muntah darah"
Aku melihat darah yang tak banyak hanya seperti dahak yang terkena sedikit darah. Aku merasa takut karena Zahra terus meraung sakit. Aku bingung harus apa ditambah para teman-teman cowok yang sangat berisik dari lantai 2 membuatku tambah bingung dan kesal.
"Cowok diem dulu" aku berteriak
Namun teriakanku tak digubris
Sampai dimana Zahra benar-benar menangis, semua teman-teman wanita dalam kamar itu terbangun.
"Weh diam dulu zahra muntah darah" teriakku karena para pria yang sangat berisik
Mendengar perkataanku seketika semua teman-teman cowok beranjak kekamar putri.
Akhirnya malam itu Zahra dilarikan ke Rumah Sakit.
Kami menunggu diruang tamu memperhatikan tayangan kamera cctv.
"Weh ini kompor nyala toh?" Ujar Husman yang tepat berada didepan kompor tersebut
"Ya matiin lah" Jawabku
"Matiin toh" balas Husman
Aku yang gregetan masuk ke dapur hanya untuk mematikan kompor.
"Weh weh liat ada apa tuh putih-putih" ujar Farhan seolah menakut-nakuti
Farhan yang mengenakan sarung membuat dirinya seakan seperti pocong yang membuat Widhi berteriak ketakutan.
Melihat jam menunjukkan pukul 00.20 yang putripun kembali kekamar untuk beristirahat



Day 7 : BBM Idol Irwansyah Harahap 2019
Nanti malam kami akan mengadakan kegiatan BBM Idol Irwansyah Harahap 2019. Sedari pagi sampai sore kami menyiapkan semuanya mulai dari musik, susunan lagu dan alat musik yang akan digunakan. Hasil karya yang kemarin kami buat akan ditampilkan malam ini.
Sampai tiba malam penanpilan itu. Rasanya tidak sabar dan gugup. Saat itu yang menjadi juri nya adalah Bapak Irwansyah dan Bang Arief. Serta mcnya adalah saya dan Widhi dari Bali
Kami mengundi urutan tampil. Semua teman-teman mengeluarkan bakat dan keahlian mereka dalam bernyanyi, bermain alat musik dan berpuisi. Kami sangat bahagia diselingi beberapa gelak tawa karena kelucuan Husman dari Wakatobi. Hari itu satu kenangan baru terukir lagi dalam hatiku, keberasamaan yang aku harap akan selalu ada meakipun aku tahu kita harus berpisah.
Karya yang saya buat adalah sebuah puisi perjalanan saya mengikuti Belajar Bersama Maestro sampai saat ini, puisi itu diiringi instrumen piano berjudul crying alone.
Kota Melayu Deli
Karya : Ratu Sondang Elishabet Sidauruk
Pagi itu kicauan burung membangunkan ku
Matahari menyapa ku dengan sinarnya
Buku pelajaran menjadi sarapan ku hari itu
Hari itu 22 mei 2019 adalah momok menakutkan bagiku
Ya bagaimana tidak, selain hari itu ujian kenaikan kelas hari itu juga ada
pengumuman peserta yang lolos belajar bersama maestro
Jangan tanyakan pengalaman bermusik
Bernyanyi bagi saya untuk menghibur diri
Bahkan saya hanya penyanyi kamar mandi
Hidup ini bukan skenario manusia
Hal yang awalnya ku pikir itu tidak mungkin sekarang menjadi kenyataan
Kenyataan yang membuat kata Impossible menjadi Im Possible
Hari terus berlalu
Sampai hari keberangkatan itu tiba
Jakarta tempat kita bertemu tanpa saling mengenal
Terbang bagai burung, melintasi gelapnya malam dilangit Sumatra
Sampai tiba disini.. Ya.. Disini
Detik demi detik kita lewati bersama
Canda dan tawa yang tiada habisnya
Seperti kata sedih hilang sejenak dalam kamus hidupku
Didunia ini semua punya masanya
Semua punya waktunya
Sayangnya semua hal yang menyenangkan membuat waktu seakan berjalan lebih cepat
Sampai saat ini saya tak tahu mengapa pertemuan berjodoh dengan perpisahan
Mereka seperti dua sejoli yang tak terpisahkan
Aku tahu ketika kita bertemu kita pasti akan berpisah
Tak seperti lagu yang bilang berpisah itu mudah
Berpisah itu sulit
Setelah berpisah nanti akan ada kata RINDU diantara kita
Kalian telah tersimpan dihati kecil ini
Disini ... Ya.. Disinu
Dikota dengan julukan Kota Melayu Deli
Kita bertemu dan kita berpisah
Itu adalah karya yang kubuat.
Setelah BBM Idol selesai kami keluar untuk jajan
Kami mendatangi supermarket untuk membeli beberapa cemilan.
Namun Iqbal,Widhi dan Tri mereka makan dulu diluar sedangkan aku, Amal dan lainnya pulang kerumah
"Kalau mau makan dirumah Bapak juga ada. Ngapain makan diluar" ujar gaim
Aku mengiyakan saja deh biar cepat
"Kalau kaya ginikan ngga ada dirumah Bapak" ujar gaim yang menunjukkan beberapa cemilan dan minuman yang dibelinya.
Kesan baru malam minggu bagiku. Dahulu malam minggu adalah malam paling membosankan dan malam yang berisikan hal-hal yang unfaedah seperti tidur,tidur, tidur atau maraton nonton drama korea.
Sekarang kalian memberi warna dalam malam minggu ku meskipun hanya hari ini malam minggu ku bersama kalian terasa bahagia karena malam minggu depan akan penuh tangis.

Day 8 : Happy Sunday
Diminggu pagi ini kami jogging disekitar daerah rumah Bapak Irwansyah. Hanya kami tanpa bapak, karena bapak harus menjemput kak Niesya di Bandara. Setelah berkeliling lingkungan rumah pak Irwansyah kami makan lontong sayur khas medan didekat rumah bapak.
"Ini yang bayar bapak toh bukan kita?" Tanya Husman
"Ya bayar sendiri lah bang Woce" jawab Zahra
Woce adalah sapaan akrab kami untuk Husman
Kami menjahili Husman, kami berpura-pura bahwa makanan yang kami makan itu bayar sendiri.
"Eee.. Serius toh" Tanya nya lagi
Semua teman-teman dengan kompak mengiyakan. Terlihat raut muka Husman yang gelisah karena tidak membawa uang.
Setelah semua selesai makan Husman tetap bertanya
"Ini yang bayar bapak kan?"
"Iya Bang Woce" saut Zahra
Hari iti kami diberi wakti bebas sampai jam 2 siang.
Hari itu aku dan Agape akan beribadah kegereja. Ibadah gereja dimulai jam 10.00
Waktu itu jam masih menunjukkan pukul 07.15 aku manfaatkan untuk beristirahat. Sekitar jam 09.00 aku mandi dan bersiap berangkat ke gereja.
Setelah lama bersiap-siap jam menunjukkan pukul 09.20
Aku kira si Agape udah siap-siap ternyata masih tidur. Mana dibangunin pake suara susah banget.
"Agape bangun" Ujarku membangunkan Agape
"Eh ntar ya aku mandi dulu"
Yaelah jam segini belum mandi.
Akhirnya kami berangkat kegereja pukul 09.55
Untung saja jarak rumah dan gereja tidak begitu jauh.
Kami disambut ramah digereja tersebut. Mungkin kami terlihat baru digereja tersebut terutama ketika agape yang mengenakan jaket BBM.
Setelah ibadah kami diajak berbincang-bincang oleh pendeta disana. Kami ditanya kenapa kami ada disini bahkan kami diajak bergabung menjadi pemusik gereja.
Namun kami tidak bisa karena minggu depan kami sudah harus pulang kerumah kami masing-masing.
Kami berdua menyewa gocar menuju gereja kristen indonesia sumatra utara didaerah setia budi. Harga gocar dari rumah bapak ke gereja sekitar Rp.21.000
"Agape kamu dulu yang bayar nanti aku yang bayarin ongkos pulang" ujarku
Agape mengiyakan
Namun saat pulang gereja ternyata harga dari gereja ke rumah bapak hanya Rp.13.000
"Wah rugi aku, kok lebih murah" ujar Agape
"Beda Rp.9000 ya" ujarku tertawa
Setelah itu sekitar jam 14.00 setelah makan kamu diajarkan lagu batak yaitu sing sing so dan sinanggar tullo. Kami juga diajarkan dasar-dasar bermain hasapi. Hasapi hanya memiliki 5 tangga nada yaiti do,re,mi,fa,sol. Untuk memainkan hasapi yaitu ditekan dengan kuku dan hanya ada genreng ke bawah. Bapak Irwansyah mempunyai hasapi buatannya sendiri. Ketika hasapi hanya mempunyai 2 senar, Bapak Irwansyah membuat hasapi dengan 3 senar.



Day 9 : Hariku bersama Hasapi
Tidak seperti lagu Hariku bersama nya. Hariku adalah bersama Hasapi.
Seharian ini kami terus berlatih hasapi. Kami diajarkan hasapi ende dan hasapi doal. Dan juga belajar lagi lagu sing sing so dan sinanggar tullo yang dipadukan dengan alat musik hasapi. Jadi teman-teman yang putra bermain hasapi ende dan hasapi doal, sedangkan yang putri bernyanyi lagu sing sing so dan sinanggar tullo.
Malam harinya kami diberikan waktu secara bergantian untuk mengetik tugas 1 Musik dunia dan Dunia Musik serta tugas 2 yaitu cerita tentang city tour dan tugas kelompok sewaktu itu
Saat itu aku sedang berada didepan layar komputer dengan lagu I Love You 3000 yang terputar dihandphoneku.
Grup kamar 437 yang sangat ramai membuatku tidak fokus saat mengetik. Meskipun kami hanya bersama saat dihotel tapi chemistry yang ada sangat dalam. Saat itu grup sedang membahas kegiatan mereka dirumah maestronya masing-masing, ada yang kasmaran dengan seseorang.
Haura : Vc yuk
Saya : Lagi sibuk
Haura : sibuk apaan lu ? Sibuk ngajarin nyuci piring
Sepenggal awalan chat kami
Gaim duduk disamping ku, memperhatikan tugas kelompok kami.
Saat sedang merapihkan tugasku, mengecek apakah ada kesalahan kata. Tiba-tiba handphoneku menyala karena notifikasi grup penghuni kamar 437
"Sampai ada alumni kamar gitu ya?" ujar gaim
"Iya dong" ujarku membanggakan diri
"Kok bisa ada alumni kamarnya ?" Tanyanya lagi
"Secarakan kamar 437 itu solid dan punya hobi yang sama"
"Isinya ngebahas apa aja?" Tanya Gaim kembali
"Grup ini berisikan ghibahan segar" ujarku sambil tertawa
Awalnya kami membuat tugas kelompok lewat ms word dihandphone dengan menggunakan google voice. Supaya lebih cepat lalu kami pindahkan ke komputer dan mengedit dikomputer tersebut. Kata-katanya banyak yang typo.
"festival pada tanggal 14 - 16 Juni 2019 yang diramalkan oleh guru musik suara sama mantan nyari dan kuat nikahan" kalimat yang typo karena penggunaan voice
Seharusnya kalimat yang benar "festival pada tanggal 14 - 16 Juni 2019 yang diadakan oleh grup musik suarasama, mataniari dan kua etnika" hal itu membuat kami tertawa.
"Ini typo nya parah banget sih." ujarku sambil tertawa
Akhirnya tugaspun selesai kami bersiap untuk beristirahat.
Mataniari
Seperti biasanya di pagi hari kami berlatih hasapi dan lagu sinanggar tulo serta lagu sing sing so. Namun nanti malam ada hal spesial karena kami akan kedatangan tamu yaitu guru yang melati bapak Irwansyah harahap, dia  adalah opung Martinus dan opung Edward.
Pada pagi hari sampai sore harinya kami diberikan tugas untuk membuat video keseharian kami selama di rumah bapak Irwansyah Harahap. Kami membuat pembagian tugas lalu melanjutkan pembuatan video tersebut.
Sore haripun tiba, sewaktu itu aku baru pulang dari tempat laundry pakaian. Terlihat ada dua orang yang sedang duduk bersama bapak Irwansyah di teras rumah.
Karena sudah sore bagi saya itu waktunya untuk mandi.
Setelah mandi saya turun ke tempat latihan. Tak lama kemudian bapak Irwansyah menyuruh kami berkumpul. Kamipun memperkenalkan diri kepada opung martinus dan opung eduard.
Kami diperlihatkan beberapa permainan musik gondang oleh opung martinus,opung eduard, dan kedua cucu mereka termasuk didalamnya ada bapak Irwansyah.
Setelah melihat beberapa penampilan mereka kami diberikan waktu untuk Sholat dan makan.
Selesai makan kami kembali lagi untuk menonton penampilan opung guru.
"Pak ini hasapi saya patah toh" ujar Husman
"Yaudah kamu ikut nari tor-tor aja" celetukku
Untuk yang putra mereka belajar hasapi dengan bapak Irwansyah dan Opung martinus serta opung Eduard kecuali Husman yang karena bagian hasapinya patah jadi Husman memainkan Hesek. Sedangkan kami yang putri dilatih menarikan tor-tor oleh Ibu Rithaony dan Kak Niesya.
Sampai akhirnya Husman tidak ikut bermain hasapi melainkan berganti menjadi pemain hesek. Hesek adalah alat untuk mengatur tempo musik, cara memainkan alat ini adalah dipukul.


Day 10 : Sampai bertemu Toba
Hari ini kami memulai rekaman untuk musik video yang kami buat. Dengan beberapa kali rekaman dan atas bantuan kak Niesya akhirnya rekaman suara kami selesai juga.
Sore harinya kami beristirahat
Pada malam harinya kami berkumpul sejenak untuk membahas keberangkatan kami besok menuju Toba. Kami diberikan baju dengan gambar bapak Irwansyah dan diberikan notebook Caldera serta kalender.
Kami sangat senang sekali tak sabar rasanya ingin segera menuju danau Toba.
"Inget besok bajunya dibawa, pakai tas bbm dan jangan lupa bawa jaketnya. Bawa barang-barang seperlunya saja" ujar bapak Irwansyah
"Kalau ada yang ketinggalan suruh pulang lagi" celetuk seseorang
"Besok kita berangkat jam 05.00" lanjut Bapak Irwansyah
"Yang telat bangun ditinggal ya"
Setelah itu kami asik berfoto.
Malamnya kami tidak bisa tidur sedangkan yang putra mengerjakan tugas dari kemdikbud.
Saya,Widhi, Tri,Zahra,Iqbal akhirnya memesan nasi goreng.
Saat kami sedang makan tiba-tiba Aldi datang
Sampai tiba dimana Aldi memanggil Tri dengan sebutan Putri. Nama lengkap Tri adalah Tri Meiliani. Namun Aldi memberikan nama panggilan khusus untuknya.
Seketika grup menjadi rame karena kita membercandai Aldi dan Tri.
"Palembang dan Padang bersatu. Cintaku LDR"
"Ciee besok mau otw balige untuk honey moon"
Dilanjutkan dengan perang foto aib.


Day 11 dan 12 : Negeri Toba
Hari itu perjalanan kami dimulai sekitar pukul 05.30 kami berangkat dari Rumah bapak Irwansyah menuju ke balige. Perjalanan kesana cukup lama, kami juga menjemput opung Martinus, Opung Eduard dan kedua cucunya, kami akan pentas bersama mereka di desa meat balige. Aku duduk bersama dengan Amalia yang berasal dari Bandung.
Setelah sekian lama perjalanan dengan kanan kiri kami adalah pepohonan rindang. Dan juga sinyal yang bermasalah pada akhirnya kami melihat Karya Tuhan yang sangat Indah yaitu Danau Toba. Danau Toba yaitu danau vulkanis yang terbentuk akibat letusan gunung toba. Danau Toba sangat luas bahkan kata Bapak Irwansyah, luas Danau Toba melebihi negara Singapura.
Awal perhentian kami adalah parapat. Di parapat kami mengunjungi rumah persingghan bapak Ir.Soekarno. Kami juga berfoto didepan rumah persinggahan Bapak Ir.Soekarno.
Aku mempunyai sapaan akrab untuk temanku Riza yang berasal dari Pati,Jawa Tengah. Aku memanggil dia dengan sapaan oppa, seperti pada film-film korea. Aku memanggil dia oppa bukan tanpa sebab, saat itu Riza mengenakan baju dengan tulisan I Love Korea dan semenjak itu aku memanggil dia dengan sebutan oppa.
"Oppa, aku mau foto bareng oppa" ujarku kepada Riza
Kami berdua berfoto didepan Rumah persinggahan Bapak Ir.Soekarno
Setelah itu kami foto bersama seluruh peserta Belajar Bersama Maestro Irwansyah Harahap.
Mungkin karena Oppa Riza tidak tersenyum saat akan foto bersama Bapak Irwansyah berkata
"Oppa senyum dong" ucapan Bapak Irwansyah yang mengundang gelak tawa
Semenjak itu kak Niesya juga memanggil Riza dengan sebutan Oppa.
Di parapat juga kami membeli beberapa oleh-oleh. Aku membeli baju dan ada juga yang membeli ikat kepala.
Setelah dari parapat kami melanjutkan perjalanan menuju balige. Kami sampai disebuah hotel di kawasan balige sekitar pukul 15.00. Dalam satu kamar terdiri atas 2 orang dan teman sekamarku adalah Amalia. Kami beristirahat sejenak di hotel dan melanjutkan perjalanan ke desa meat. Kami berangkat dari dermaga hotel menuju desa meat sekitar pukul 18.00 suasanan senja waktu itu tak dapat ku lupakan. Senjaku bersama mereka, dengan sejuta tawa kegembiraan. Angin danau mengelus rambut panjang ini. Semakin lama matahari semakin tenggelam dalam harmoni kebersamaan ini.
Lama kelamaan angin mengelus semakin kencang dan bahkan elusannya menusuk tulang. Aku mencoba bertahan, aku ingin melihat senja didanau toba. Sampai senja pun berakhir, matahari telah beristirahat sekarang adalah tugas bulan untuk menemani kami.
Kami akhirnya tiba di pelabuhan desa meat, namun kamimi harus berjalan menuju kampung adat. Cukup melelahkan sih tapi rasa lelah itu terbayarkan oleh sambutan hangat para warga disana.
Hari itu aku tak bisa berkata kata, betapa senangnya hati ini. Pertama kalinya aku ke danau toba lalu pentas di desa meat.
Saat disana kami diberikan ucapan pembuka dari warga disana dalam bahasa batak. Tak ada yang mengerti hanya aku yang mengerti dan aku terjemahkan kepada teman-teman ku. Terasa jadi translator sehari.
Setelah pentas kami kembali ke hotel mengarungi danau toba dan dingin nya malam hari.
Kami tiba di hotel dan langsung beristirahat.
Keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan ke TB.Silalahi Center disana kami membuat klip musik video kami. Disana juga kami menarikan tor-tor dan bermain musik didaerah huta batak. Kami mengenakan pakaian adat khas batak.
"Kalian semua tambah ganteng dan cantik deh pakai baju khas batak". Pikirku sejenak
Terkadang hal menyenangkan membuat waktu seakan berjalan lebih cepat.
Kami pulang sekitar jam 15.00 dalan perjalanan setiap sisiku dikelilingi tebing dan pohon. Seketika air mataku jatuh. Aku memikirkan betapa aku akan merindukan hal ini. Tak henti-hentinya air mata ini mengalir.
Kami singgah diwarung untuk sekedar makan mie dan minum. Tak beberapa lama kami duduk diwarung tersebut hujanpun turun. Aku melihat danau toba yang diguyur hujan dan pohon-pohon yang bermandikan hujan. Terasa seperti hujan itu adalah air mata yang turun karena aku akan meninggalkan tempat yang indah ini. Setelah selesai makan kami kembali kedalam bus. Udaranya sangat dingin bahkan ketika Ac sudah dimatikan tetap saja rasanya sangat dingin.
Aku mengeluarkan handuk untuk digulungkan ketanganku agar tidak merasa kedinginan.
Husman menertawaiku karena aku menggulung tanganku dengan handuk
Lalu dia memberikan topi nya
"Nah pakai biar ngga kedinginan" Ujar Husman
"Kan tanganku yang kedinginan, bukan kepalaku"
"Ya kan itu... Bla...blaa.blaa" Penjelasan Husman yang tidak jelas membuat ku pusing
Semakin lama udara dingin ini membekukan tubuhku. Tanganku tampak memutih seperti tak memiliki darah sampai akhirnya ditengah jalan Husman memberikan jaket miliknya. Meskipun sudah memakai 2 jaket tapi tetap saja udara dingin ini membekukan ku.
"Itu topi ku ngga bau toh ?" Tanya Husman
Aku hanya diam.
"Padahal itu aku belum cuci udah sebulan" Ujar Husman sambil tertawa
Setelah merasa sudah tidak dingin lagi aku mengembalikan jaket milik Husman.
"Kenapa dikembaliin?" Tanya Husman
"Udah ngga dingin"
"Serius toh masih dipakai ngga?"
"Ngga kok, thank ya"
"Serius e, si Zahra mau minjem ini"
"Iya ngga apa-apa pinjemin ke Zahra aja"
"Serius e"
"Iya"
Sampai akhirnya kami sampai dirumah Bapak Irwansyah. Aku langsung menuju kamar dan tidur.
Selamat malam untuk sebagian hatiku yang tertinggal di Danau Toba.


Day 13 : Perpisahan menanti kita
Aku tahu ketika kita bertemu kita pasti akan berpisah
Tak seperti lagu yang bilang berpisah itu mudah
Berpisah itu sulit
Setelah berpisah nanti akan ada kata RINDU diantara kita
Hari ini hari terakhir kami disini karena besok kami sudah harus pulang kerumah kami masing-masing. Rasanya aku tak ingin berpisah.  Besok ada yang berangkat pukul 06.00 pagi ya jadi benar saja hari ini hari terakhir kami berkumpul lengkap.
Siang harinya kami diajak Ibu Rithaony dan kak Niesya berbelanja oleh-oleh. Aku menumpangi mobil Ibu Ritha, didalam sana ada Aku,Amal,Aldi,Hafiz,Gaim serta Farhan. Kami berkunjung ke pasar untuk membeli kain ulos lalu dilanjutkan ketempat oleh-oleh.
Selama perjalanan aku tak henti-hentinya mengejek Gaim yang akan pulang dengan pesawat lion air. Bukannya mengejek pesawat nya tapi karena bagasi lion air yang berbayar membuat uang saku Gaim terpangkas untuk membayar bagasi.
"Aduh untung aku free bagasi" Ujarku dengan nada mengejek
Tetlihat raut wajah sedih pengguna lion yang akan membayar bagasi. Bukan hal yang murah karena harga bagasi yang cukup malah tergantung jarak tempuh.
Saat kami menuju tempat oleh-oleh kami melewati lapangan Merdeka, tempat kami membuat video ucapan selamat ulang tahun untuk kota Medan. Disana terdapat klenteng. Sewaktu itu aku ingin berfoto diklenteng namun tidak ada yang mau mengantarkan.
"Hao xiang ni, Hao xiang ni" Ejek gaim
" Pake kacamata ditambah poni. Mata lo tuh ga sipit" ujarnya
"Sirik aja ya pengguna lion air ini. Udah pikirin aja tuh bagasi lo" ujarku kesal
Setelah kami membeli beberapa kue kamipun pulang.
"Shabet, aku kira kamu tuh jutek dan cuek loh" ujar Aldi dengan bahasa Indonesia berlogat Minang
"Lah kok gitu" jawabku
"Iya aku kira kamu begitu ternyata kamu orangnya asik" Ujar Aldi
Sebenarnya kebanyakan orang berkata begitu. Mereka melihat bahwa aku adalah orang yang cuek dan juga jutek tapi sebenarnya asik dan juga receh.
Saat kami pulang ternyata sudah ada bapak Frans dan Kak Hana perwakilan dari kemdikbud.
Saat itu juga ada pembagian sertifikat dan uang saku
Tibalah malam yang menyakitkan. Malam itu penuh dengan air mata kebahagiaan. Dengan kata maaf dan terimakasih.
Terakhir acara kami bersama bapak Irwansyah, kami meminta maaf dan terima kasih kepada Bapak Irwansyah dan keluarga serta teman-teman semua.
"Saya mau bilang maaf dan terima kasih atas ilmu yang telah bapak Irwansyah berikan. Kepada teman-teman atas pengalaman yang kalian berikan. Terimakasih buat Widhi atas ilmu tentang perfilmannya, Terimakasih untuk iqbal atas permainan gitarnya" ujarku namun terpotong
"Terimakasih buat gue ngga ada?" Tanya gaim yang duduk disampingku
"Ngga ada. Buat teman-teman semuanya terimakasih dan maaf" ujar ku yang kehabisan kata-kata
Setelah itu baju belajar bersama maestro Irwansyah Harapan ditanda tangani oleh bapak Irwansyah
"Ini tanda tangannya hanya 15 orang yang punya" ujar bapak Irwansyah
"Ini baju gue biar inget wangi baju gue" ujar Gaim
"Apasih ? Baju lo tuh bau, belum dicuci. Bajuku kan udah dilaundry" ujarku
Tolong jangan hilangkan kenangan ini.
Jangan pernah tekan tombol restart dalam tubuh ini karena aku tidak ingin kalian menghilang dalam diriku
Jika kalian RINDU katakan saja
Jangan membuat kata RINDU menjadi berat dikata dan berat dihati.
Rinduku sejauh 1711 KM

Day 14 : Hati ku tertinggal dikualamamu
Tak terasa temanku sudah ada yang pergi kebandara terlebih dahulu. Satu persatu semua pergi. Pesawat ku berangkat pukul 12.15 namun aku berangkat pukul 06.00 menuju bandara.
Hati ini belum siap berpisah.
"Pastiin jangan ada yang tertinggal ya dek?" ujar kak Hana dari kemdikbud
"Sebagian hatiku tertinggal disini kak" ujarku
Aku menuju bandara soekarno hatta bersama Iqbal dan Farhan. Anggap saja mereka adalah pengawalku.
Iqbal hanya transit saja dibandara soekarno hatta dan melanjutkan perjalanan ke lampung.
"Nanti jangan lupa main ke Lampung ya" ujar Iqbal
Selama perjalanan aku sesekali memperhatikan raut wajah Farhan yang terpukau melihat awan. Saat kami pergi ke Medan sewaktu itu saat malam hari jadi kami tidak bisa melihat apapun selain gelapnya malam.
Setelah perjalanan selama 2 jam akhirnya saya sampai dibandara soekarno hatta.
Saya berpisah dengan Iqbal di bandara. Saat saya sedang mengambil koper saya dan Farhan kami terpisah dari Iqbal.
Sampai saat saya membuka handphone ternyata ada panggilan tak terjawab dari Iqbal.
Aku berusaha menghubunginya lagi. Sampai akhirnya panggilanku pun terjawab. Iqbal menelepon untuk mengucapkan kata perpisahan untukku  dan Farhan karena dia akan langsung berangkat menuju Lampung
Saya pulang ke kota serang bersama teman saya asal Serang dari maestro Bapak Jose Rizal
Akh menyiksa sekali menulis bagian terakhir ini.
I Miss You 1711 KM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Essai Belajar Bersama Maestro 2019

Pelatihan Google Workspace Kepada Guru SDN 3 Parangharjo Guna Menyongsong Perkembangan Teknologi Di Dunia Pendidikan

Jelajah Energi Terbarukan Jawa Tengah : Transisi Energi Bersama Rakyat